Rectangle 135

Peran Asma Nadia dalam Trilogi 212 dan Hayya

Jejak sinematik Asma Nadia dalam trilogi 212 dan Hayya menunjukkan sisi kreativitasnya yang berbeda. Jika biasanya sutradara meminjam cerita dari novelnya yang sudah terbit, di sini Asma Nadia justru terjun langsung meracik ceritanya dari nol khusus untuk layar lebar.

Dalam proyek kolaborasi ini, ia memegang kendali penuh di balik layar sebagai produser sekaligus penulis skenario. Menariknya, setelah filmnya rampung, ia membalik proses kreatifnya dengan menulis novelisasi, mengubah naskah film tersebut menjadi buku novel (212 Cinta Menggerakkan dan Hayya). Tak sampai di situ, ia juga pamer bakat akting dengan turut bermain peran sebagai Bi Nurul, sosok wanita Sunda yang hangat. Melalui semesta film ini, ia menyelipkan misi kemanusiaan yang kuat, menyuarakan jeritan anak-anak korban perang di Palestina, serta mengemas isu sensitif menjadi tontonan keluarga yang penuh empati.

Berikut adalah jalinan kisah dari ketiga film yang saling terikat dalam satu semesta tersebut:

212: The Power of Love (2018)
Kisah bermula dari hubungan dingin antara Rahmat, seorang jurnalis berpemikiran skeptis, dengan ayahnya yang merupakan seorang kiai di Ciamis. Usai duka kehilangan sang ibu, Rahmat pulang dan mendapati ayahnya bersiap memimpin rombongan jalan kaki massal menuju aksi damai di Jakarta pada Desember 2016. Terpaksa ikut mengawal sang ayah demi keselamatan, perjalanan panjang yang melelahkan ini justru perlahan meruntuhkan tembok ego di antara mereka, menyatukan kembali hati ayah dan anak yang sempat membeku oleh perbedaan prinsip.

Hayya: The Power of Love 2 (2019)
Melanjutkan babak kehidupan barunya, Rahmat memutuskan berangkat menjadi jurnalis kemanusiaan di kamp pengungsian Palestina. Di tanah yang dilanda konflik tersebut, takdir mempertemukannya dengan Hayya, seorang bocah yatim piatu yang kemudian menganggap Rahmat sebagai sosok pengganti ayahnya. Ketika masa tugas Rahmat habis dan ia harus pulang ke Indonesia untuk menikah, perpisahan mereka berubah menjadi drama yang mengejutkan karena Hayya nekat menyelundup di dalam tas Rahmat demi bisa ikut ke Indonesia.

Hayya 2: Hope, Dream & Reality (2022)
Di film penutup ini, fokus cerita bergeser pada trauma mendalam yang membayangi Hayya akibat ingatan buruk tentang perang di negaranya. Takut dideportasi kembali ke Palestina, Hayya nekat kabur dan telantar di kerasnya kota Jakarta hingga akhirnya diselamatkan oleh sepasang suami istri, Faisal dan Lia, yang kebetulan sedang berduka karena kehilangan anak mereka. Kehadiran Hayya sempat menjadi penawar lara dan membawa kebahagiaan baru di rumah itu, sebelum akhirnya mereka dihadapkan pada realitas hukum dan pilihan pelik tentang masa depan sang bocah. (*)

 

Kisah Asma Lainnya

Scroll to Top