Rectangle 135

Trauma Masa Lalu yang Berubah Manis: Kisah Islam di Korea

Dua dekade lalu, melangkah di jalanan Seoul dengan hijab yang melekat di kepala adalah sebuah ujian keberanian bagi penulis Asma Nadia. Korea Selatan saat itu masih asing dengan Islam. Pengalaman pahit pun sempat menorehkan luka: ia pernah diteriaki kata “teroris” oleh warga lokal di tempat umum.

Prasangka dan tatapan penuh curiga menjadi dinding pemisah yang tebal, membuat Korea terasa dingin dan tidak ramah bagi pelancong Muslim. Namun, waktu membuktikan bahwa sebuah bangsa bisa belajar dan berbenah.

Saat kembali mengunjungi Negeri Ginseng bertahun-tahun kemudian, Asma Nadia menyaksikan sebuah transformasi yang luar biasa. Korea Selatan yang sekarang bukan lagi Korea yang dulu. Dinding prasangka itu telah runtuh, berganti menjadi karpet merah yang menyambut hangat wisatawan Muslim.

Kini, Korea Selatan bertransformasi menjadi salah satu destinasi yang sangat adaptif terhadap wisata halal. Asma Nadia dengan takjub menemukan betapa pemerintah dan pelaku industri di sana sangat serius menggarap pasar Muslim. Mencari makanan halal atau menu yang aman dikonsumsi kini bukan lagi perkara mustahil. Restoran dengan sertifikasi halal, label kandungan makanan yang jelas, hingga fasilitas tempat ibadah atau mushola kini tersebar di berbagai sudut kota dan destinasi wisata utama.

Keramahan warganya pun berubah drastis. Hijab kini dipandang dengan rasa hormat dan toleransi, bukan lagi dengan ketakutan. Pengalaman spiritual dan kultural inilah yang kemudian menginspirasi salah satu karya ikoniknya, novel Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea. Melalui kisah fiksi yang menyentuh, Asma Nadia menyelipkan pesan mendalam tentang bagaimana seorang Muslimah dapat menjelajahi dunia tanpa kehilangan jati diri.

Korea Selatan menjadi latar sempurna untuk menunjukkan bahwa Islam bisa bersanding indah dengan modernitas, dan bahwa perbedaan budaya bukanlah alasan untuk saling menjauh, melainkan jembatan untuk saling mengenal.

Bagi Asma Nadia, potret Islam di Korea saat ini adalah bukti nyata dari indahnya toleransi global. Sebuah perjalanan dari trauma masa lalu, menuju masa depan yang penuh dengan kehangatan dan rasa saling menghargai. (*)

Kisah Asma Lainnya

Scroll to Top