Ada sesuatu yang selalu menarik dari sebuah perjalanan. Kita datang mencari pemandangan, tetapi sering kali justru pulang membawa cerita tentang manusia.
Vietnam, bagi saya, adalah salah satunya.
Di antara hiruk-pikuk kota, aroma pho, sungai-sungai yang mengalir tenang, dan jejak panjang peradaban Asia Tenggara, ada sebuah kisah yang mungkin tidak terlalu banyak dibicarakan: jejak Islam di Vietnam.
Ketika mendengar kata Islam dan Vietnam, ingatan kita mungkin segera mengarah kepada komunitas Muslim Champa. Masyarakat Cham memiliki sejarah panjang di kawasan ini, dan sebagian komunitasnya memeluk Islam. Jejak itu masih terasa hingga kini, terutama di wilayah selatan Vietnam.
Di Ho Chi Minh City, misalnya, masjid-masjid berdiri di tengah kehidupan kota yang begitu dinamis. Di balik pintunya, suasana terasa berbeda: lebih hening, lebih teduh. Ada sajadah yang mengarah ke kiblat, mihrab, suara azan, dan orang-orang yang sejenak meninggalkan kesibukan dunia untuk menghadap Allah. Masjid-masjid itu juga menjadi ruang berkumpul dan menjaga kehidupan komunitas Muslim.
Namun, bila ingin merasakan jejak Islam yang lebih kuat, saya akan membawa langkah ke An Giang, di kawasan Delta Mekong.
Di sana terdapat komunitas Cham, termasuk di Desa Chau Phong. Rumah-rumah tradisional berdiri di antara lanskap sungai dan kanal, sementara masjid menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Masjid Mubarak bahkan tercatat sebagai salah satu peninggalan budaya tingkat nasional di An Giang.
Yang membuat saya terharu adalah kesadaran bahwa sejarah tidak selalu meninggalkan dirinya dalam bentuk bangunan megah. Kadang ia hidup dalam bahasa yang masih digunakan, makanan yang diwariskan, pakaian, rumah, tradisi keluarga, dan cara sebuah komunitas menjaga keyakinannya dari generasi ke generasi.
Di Vietnam, jejak Islam mungkin tidak sebesar jejak agama-agama lain. Tetapi justru karena itulah, menemukannya terasa seperti menemukan halaman kecil yang tersembunyi dalam sebuah buku perjalanan yang tebal.
Dan mungkin, perjalanan terbaik memang bukan yang membuat kita berkata, “Aku sudah melihat semuanya.”
Melainkan yang membuat kita pulang sambil berpikir, ternyata dunia jauh lebih beragam daripada yang selama ini kukira. (AN)
