Bagi saya, dunia literasi bukan sekadar deretan buku di rak atau susunan kata yang estetik di layar gawai. Literasi adalah fondasi peradaban, nafas dari karakter sebuah bangsa, dan jalan ibadah untuk menjemput rida-Nya. Ketika kita berbicara tentang generasi muda di era banjir informasi saat ini, literasi bukan lagi sekadar pilihan atau hobi pelipur lari, melainkan sebuah kebutuhan yang mutlak.
Kita sedang hidup di zaman di mana arus informasi mengalir tanpa bendungan. Setiap hari, anak-anak muda kita dihujani oleh jutaan narasi digital. Di sinilah letak krusialnya literasi. Generasi muda tidak boleh hanya menjadi konsumen pasif yang menelan mentah-mentah setiap berita atau tren yang lewat. Tanpa nalar literasi yang kuat, mereka akan mudah terombang-ambing oleh hoaks, provokasi, dan budaya pendangkalan moral. Literasi adalah kompas yang melatih mereka memilah mana informasi yang valid, mana yang menyesatkan, serta mana yang mencerahkan hati dan pikiran.
Namun, membaca saja tidak cukup. Saya selalu menekankan kepada para penulis muda bahwa kita harus berani melangkah lebih jauh, bangkit menjadi produsen konten. Di dunia digital yang begitu riuh, jika orang-orang baik memilih diam dan enggan menulis, maka ruang publik akan dipenuhi oleh narasi-narasi negatif yang merusak nilai moral dan keimanan.
Pena atau papan ketik di jemari kalian adalah senjata.
Melalui tulisan, generasi muda memiliki kekuatan besar untuk meluruskan sejarah, menyuarakan kebenaran, dan menyebarkan nilai-nilai ukhuwah serta kemanusiaan. Menulis adalah cara terbaik untuk mengasah empati. Ketika kalian merangkai sebuah cerita atau artikel, kalian dipaksa untuk menyelami perasaan orang lain, memahami konflik kehidupan, dan merumuskan solusi yang menenteramkan. Itulah mengapa melalui Forum Lingkar Pena (FLP) yang saya dirikan atau jaringan Rumah Baca Asma Nadia, misi saya tetap sama, menyalakan lilin literasi di hati anak-anak muda agar mereka menjadi agen perubahan yang solutif, bukan sekadar pengkritik yang pasif.
Ingatlah, literasi digital juga membuka peluang luar biasa bagi kalian untuk menjadi writerpreneur—belajar menulis sekaligus mandiri secara finansial. Menulis bisa menjadi jalan rezeki di dunia, sekaligus ladang pahala jariyah yang terus mengalir untuk bekal kita di akhirat kelak.
Kepada generasi muda, jangan biarkan lingkaran duniamu menyusut karena enggan membaca dan menulis. Jelajahi dunia lewat buku, asah kepekaanmu lewat pena, dan warnai peradaban ini dengan karya-karya yang mencerahkan moral bangsa. (AN)