Rectangle 135

Membaca adalah Cara Perempuan Menggenggam Dunia

Bagi saya, perempuan adalah jangkar sebuah peradaban. Dari rahimnya, lahir masa depan. Dari hangat dekapannya, karakter anak-anak bangsa dibentuk. Namun, bagaimana mungkin seorang ibu bisa melahirkan generasi yang cemerlang jika dirinya sendiri dibiarkan berjalan dalam gulita tanpa pelita ilmu?

Di sinilah literasi menjadi ruh dari pemberdayaan perempuan. Literasi bukan sekadar urusan mengeja huruf di atas kertas atau menumpuk buku di sudut kamar. Bagi perempuan, literasi adalah jembatan menuju kemerdekaan berpikir. Ia adalah senjata paling elegan untuk mematahkan belenggu ketidakberdayaan, kemiskinan, dan diskriminasi yang kerap kali mengintai langkah kita.

Ketika seorang perempuan membuka sebuah buku, ia tidak sedang sekadar membaca kata-kata. Ia sedang membuka jendela dunia, memperluas cakrawala, dan memperdalam rasa empati. Perempuan yang literat adalah perempuan yang tahu hak-haknya, yang mampu membedakan mana kebenaran dan mana manipuasi, serta yang berani bersuara ketika ketidakadilan terjadi di depannya.

Melalui membaca dan menulis, perempuan belajar untuk mengenali potensi terbaik dalam dirinya. Literasi memberikan mereka ruang untuk mandiri, baik secara mental, spiritual, bahkan finansial. Saya selalu percaya, jika kita mengedukasi seorang lelaki, kita sedang mengedukasi seorang individu. Namun, jika kita mengedukasi seorang perempuan, kita sedang mengedukasi satu generasi. Ibu yang gemar membaca akan menularkan virus kebaikan itu pada anak-anaknya. Ia akan membangun rumah yang penuh dengan diskusi yang sehat, bukan sekadar ruang kosong yang bising oleh gawai.

Pemberdayaan perempuan tidak akan pernah sempurna tanpa sentuhan literasi. Kita tidak hanya butuh perempuan-perempuan yang sukses di panggung publik, tetapi kita butuh perempuan yang memiliki kedalaman jiwa dan ketajaman berpikir. Mari kita dekap erat buku-buku kita. Mari kita goreskan pena untuk menyuarakan kebenaran. Karena dengan literasi, perempuan tidak hanya sedang menyelamatkan dirinya sendiri, tetapi juga sedang menuntun keluarganya, dan bangsanya menuju peradaban yang jauh lebih mulia. Sebab perempuan berdaya adalah perempuan yang membaca. (*)

Kisah Asma Lainnya

Scroll to Top