Rectangle 135

Di Balik Buku Jangan Jadi Muslimah Nyebelin

Pernah nggak, kita merasa sudah menjadi muslimah yang baik hanya karena sudah berjilbab, rajin ikut kajian, atau aktif melakukan kebaikan?

Tapi coba berhenti sebentar. Tarik napas. Lalu bercermin. Jangan-jangan, tanpa kita sadari, ada orang yang justru merasa tidak nyaman ketika berada di dekat kita? Pertanyaan seperti itulah yang melatarbelakangi lahirnya Jangan Jadi Muslimah Nyebelin.

Saya menulis buku ini bukan karena merasa sudah menjadi muslimah yang sempurna. Justru sebaliknya. Buku ini adalah ajakan untuk melakukan otokritik. Sebuah pengingat bahwa menjadi muslimah bukan hanya tentang bagaimana kita terlihat di hadapan Allah, tetapi juga bagaimana kehadiran kita dirasakan oleh orang-orang di sekitar.

Sebab, kadang yang membuat seseorang menjauh bukan karena kurangnya nasihat agama, tetapi karena sikap kita sendiri.

Buku ini mengajak kita memperhatikan hal-hal yang sering dianggap sepele: kebersihan diri, penampilan, cara berbicara, kebiasaan, hingga sikap dalam bergaul. Hal-hal kecil yang mungkin tidak kita sadari, tetapi ternyata bisa mengganggu orang lain.

Misalnya, kita ingin menjadi muslimah yang baik, tetapi ucapan kita sering nyelekit. Hobi mengomentari tubuh orang lain. Suka menyindir. Sulit menahan diri untuk tidak ikut campur. Atau merasa paling tahu dalam setiap percakapan.

Bahkan dalam ibadah pun kita perlu belajar peka. Jangan sampai ibadah yang seharusnya mendekatkan kita kepada Allah justru dilakukan tanpa mempertimbangkan kenyamanan orang lain. Karena kesalehan bukan hanya soal hubungan kita dengan Allah, tetapi juga tercermin dari akhlak kita kepada manusia.

Dan satu hal yang ingin saya tekankan: menjadi “muslimah yang tidak nyebelin” bukan berarti harus menjadi perempuan yang sempurna. Kita semua punya kekurangan. Yang penting adalah kesediaan untuk bercermin, menerima teguran, lalu memperbaiki diri.

Hari ini mungkin kita masih mudah marah. Besok kita belajar menahan diri. Hari ini mungkin kata-kata kita masih sering melukai. Besok kita belajar berbicara dengan lebih lembut. Hari ini mungkin kita belum peka terhadap orang lain. Besok kita belajar lebih peduli. Sebab menjadi muslimah adalah perjalanan.

Bukan tentang siapa yang paling sempurna, tetapi siapa yang mau terus memperbaiki dirinya. Jadi, sebelum sibuk menilai muslimah lain, coba tanyakan kepada diri sendiri:

“Jangan-jangan, selama ini akulah muslimah nyebelin itu?”

Kalau jawabannya mungkin iya, tidak perlu malu. Kita bisa mulai memperbaikinya hari ini. Karena saya percaya, dunia tidak membutuhkan lebih banyak orang yang merasa dirinya paling baik.

Dunia membutuhkan lebih banyak muslimah yang kehadirannya membuat orang lain merasa aman, nyaman, dan dihargai. Semoga kita menjadi salah satunya. (*)

 

Kisah Asma Lainnya

Scroll to Top