Rectangle 135

Dengarkan Tangis Hutan Kita dan Bersuaralah!

Setiap kali mendengar kabar kebakaran hutan dan lahan (karhutla), ada perasaan sesak yang sulit saya jelaskan. Bukan semata-mata karena asap yang mencemari udara, melainkan karena saya membayangkan begitu banyak kehidupan yang harus menanggung akibatnya.

Saya membayangkan seekor induk satwa yang berlari menyelamatkan anaknya dari kobaran api. Saya membayangkan pepohonan yang selama bertahun-tahun tumbuh, memberi keteduhan dan kehidupan, tiba-tiba berubah menjadi arang. Saya juga membayangkan seorang ibu yang cemas melihat anaknya batuk-batuk karena udara yang dihirupnya tak lagi bersih.

Bagaimana perasaan mereka yang tinggal di sekitar hutan yang terbakar? Bagaimana rasanya membuka jendela rumah, tetapi yang masuk justru asap? Bagaimana seorang anak memahami kenyataan bahwa langit yang biasanya biru kini tertutup kabut kelabu?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus mengganggu pikiran saya.

Bagi saya, karhutla bukan sekadar berita tentang api yang melahap ribuan hektare lahan. Ini adalah persoalan tentang manusia, keserakahan, dan tanggung jawab. Saya sulit menerima kenyataan bahwa demi keuntungan sesaat, lingkungan bisa dikorbankan, sementara masyarakat kecil harus menanggung dampaknya.

Yang membuat saya semakin sedih, ketika api padam dan berita mulai berganti dengan peristiwa lain, kerusakan yang ditinggalkan tidak serta-merta menghilang. Hutan membutuhkan waktu untuk pulih. Satwa kehilangan habitatnya. Tanah mengalami kerusakan. Sementara itu, sebagian orang mungkin masih harus berjuang memulihkan kesehatan dan kehidupan mereka.

Saya percaya, menjaga hutan bukan hanya tugas pemerintah atau petugas pemadam kebakaran. Kita semua memiliki tanggung jawab, sekecil apa pun peran kita. Kita bisa memulai dengan tidak membakar lahan sembarangan, mendukung upaya pencegahan karhutla, serta berani menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan.

Saya tidak ingin anak-anak kelak hanya mengenal hutan yang hijau melalui gambar di buku pelajaran. Saya ingin mereka masih bisa menyaksikan pepohonan yang rimbun, mendengar suara burung di antara dedaunan, dan menghirup udara tanpa rasa takut.

Bagi saya, hutan bukan sekadar kumpulan pohon. Hutan adalah kehidupan yang saling terhubung, termasuk dengan kehidupan kita sendiri.

Karena itu, setiap kali hutan terbakar, saya merasa kita semua sedang kehilangan sesuatu. Dengarkan tangis hutan kita dan bersuaralah dengan cara kita masing-masing. (AN)

Kisah Asma Lainnya

Scroll to Top