Assalamualaikum Beijing adalah salah satu karya yang sangat dekat di hati saya. Novel ini bukan sekadar lembaran kisah cinta biasa, melainkan sebuah perjalanan spiritual dan pencarian cinta sejati yang hakiki, yang menembus batas geografis, budaya, hingga keyakinan. Melalui latar kota Beijing yang kaya akan sejarah dan dinamika modern, saya ingin mengajak pembaca melihat bagaimana Islam adalah agama yang universal, syamil (menyeluruh), dan penuh dengan keindahan rahmatan lil ‘alamin.
Sisi Islam yang paling kuat diangkat dalam novel ini adalah konsep hidayah dan takdir Allah yang penyayang. Melalui karakter Zhongwen, seorang pemuda Tiongkok, Islam diperlihatkan bukan sebagai doktrin yang kaku, melainkan sebagai jawaban logis sekaligus menenteramkan atas pencarian spiritual manusia. Zhongwen menemukan Islam bukan karena paksaan, melainkan melalui kekagumannya terhadap akhlak, keteguhan iman, dan cara pandang Asma, karakter yang sengaja saya sematkan nama saya sendiri sebagai representasi perempuan Muslimah yang berusaha menjaga kesucian diri di tengah ujian berat.
Selain itu, novel ini mengangkat indahnya ukhuwah (persaudaraan) tanpa batas. Kehadiran komunitas Muslim di Beijing, termasuk tokoh Ashima, menjadi bukti bahwa Islam menyatukan hati manusia dari berbagai belahan dunia. Tidak peduli apa latar belakang etnisnya, ketika seseorang bersujud kepada Tuhan yang sama, mereka adalah saudara. Sisi humanis inilah yang ingin saya tonjolkan: bagaimana Islam menghargai perbedaan budaya selama tidak melanggar prinsip akidah.
Tak kalah penting, novel ini menyoroti makna kesabaran (sabar) dan keikhlasan (rida) dalam menghadapi ujian hidup. Ketika Asma didiagnosis menderita penyakit berat (Antiphospholipid Syndrome), di sinilah esensi berserah diri kepada Allah diuji. Islam mengajarkan bahwa ujian bukanlah bentuk hukuman, melainkan cara Allah meninggikan derajat seorang hamba dan membersihkannya dari dosa. Cinta sejati antara Zhongwen dan Asma tumbuh di atas fondasi iman, di mana kepasrahan kepada takdir Allah justru melahirkan kekuatan luar biasa untuk bertahan.
Melalui Assalamualaikum Beijing, saya ingin mengetuk hati pembaca bahwa cinta kepada makhluk bisa saja mengecewakan dan rapuh, tetapi cinta yang disandarkan pada Sang Khalik akan selalu menemukan jalan pulangnya. Islam di sini hadir sebagai pemandu, penyembuh luka, dan cahaya yang menuntun setiap jiwa yang rindu akan kebenaran, di mana pun mereka berada. (*)