Rectangle 135

Assalamualaikum Baitullah: Fajar Setelah Malam Paling Gelap

Menulis novel Assalamualaikum Baitullah adalah salah satu perjalanan batin yang paling menguras emosi sekaligus menenteramkan bagi saya. Kisah ini lahir dari kedalaman luka, tentang seorang perempuan bernama Amira yang berada di titik terendah hidupnya hingga sempat merasa dunianya runtuh akibat pengkhianatan lelaki yang seharusnya menjadi imamnya. Lewat karakter Amira, saya ingin mengetuk hati setiap pembaca: bahwa ketika manusia mematahkan hatimu, pintu Baitullah dan dekapan kasih sayang Allah selalu terbuka lebar sebagai tempat berserah diri dan menyembuhkan luka batin.

Novel ini bukan sekadar fiksi romansa religi biasa. Di dalamnya, saya menitipkan pesan dakwah tentang keteguhan akidah, syariat, dan indahnya akhlak. Ketika Amira melangkah menapaki Shafa, Marwah, dan bersujud di hadapan Ka’bah, di situlah ia menemukan Barra, sosok yang dikirimkan Allah untuk membantunya mengurai benang kusut kesedihan. Melalui latar Madinah dan Makkah yang penuh rindu, saya ingin mengajak pembaca merasakan aura spiritual yang magis, di mana keikhlasan (rida) atas takdir-Nya selalu melahirkan kebangkitan dan cahaya harapan baru.

Kebahagiaan saya kian membuncah ketika coretan tinta di lembaran buku ini bertransformasi ke layar lebar melalui film Assalamualaikum Baitullah (2025). Di bawah arahan tangan dingin sutradara Hadrah Daeng Ratu, visualisasi luka, air mata, hingga momen-momen sakral di Tanah Suci terasa begitu hidup dan menggetarkan. Ketika menyaksikan akting Michelle Ziudith sebagai Amira dan Arbani Yasiz sebagai Barra, saya merasakan emosi yang tertuang di novel berhasil tersampaikan dengan sangat indah dan menyentuh jutaan hati penonton di bioskop.

Bagi saya, baik lewat lembaran buku maupun medium film yang kini bisa dinikmati di platform seperti Netflix, esensinya tidak pernah berubah: menjadi sebuah ruang pulang yang hangat bagi jiwa-jiwa yang terluka. Kisah ini adalah pengingat bahwa selalu ada fajar setelah malam yang paling gelap, dan tidak ada doa yang sia-sia jika kita mau melangkah mengetuk pintu-Nya. (AN)

 

Kisah Asma Lainnya

Scroll to Top