Rectangle 135

Catatan Untuk Buku ‘Jangan Bercerai Bunda’

Menulis novel Jangan Bercerai, Bunda adalah cara saya merespons keresahan yang mendalam terhadap tingginya angka perceraian di Indonesia. Sebagai seorang penulis dan seorang ibu, hati saya kerap teriris melihat betapa mudahnya ikatan suci pernikahan terkikis oleh ego, konflik, dan badai rumah tangga. Melalui buku ke-108 ini, saya ingin mengetuk hati setiap pasangan dan mengingatkan bahwa ada benteng yang harus dipertahankan mati-matian: kebahagiaan anak-anak kita.

Buku ini lahir bukan sekadar untuk menceritakan konflik, melainkan sebagai sebuah jawaban dan pencerahan bagi suami istri yang saat ini mungkin sedang berada di ujung jalan. Saya ingin menempatkan pembaca di ruang perenungan dan empati yang dalam. Dalam setiap perselisihan, perempuan sering kali menjadi benteng terakhir pertahanan keluarga. Namun, ketika fondasi itu retak, ego orang dewasa kerap membutakan mereka dari jeritan tak bersuara milik anak-anak mereka.

Salah satu pesan paling krusial yang ingin saya sampaikan adalah tentang dampak perpisahan pada anak. Kita sebagai orang tua mungkin mampu mengajari anak-anak kita banyak hal dalam hidup, tetapi kita tidak pernah, dan tidak akan pernah mengajarkan mereka bagaimana caranya menghadapi perceraian. Tatkala badai rumah tangga berujung pada perpisahan, anak-anak selalu menjadi korban utama. Ingatlah satu hal yang mendasar: dalam hidup ini, tidak pernah ada istilah mantan anak.

Melalui untaian kisah di novel ini, saya meniatkannya sebagai media penyembuhan (healing). Bagi pasangan yang saat ini masih bersama, saya berharap buku ini menjadi cermin untuk saling menjaga dan lebih mensyukuri apa yang telah dimiliki. Sementara bagi mereka yang tak lagi sejalan dan terpaksa berpisah, saya ingin merangkul luka mereka agar bisa melepaskan dengan ikhlas. Dengan begitu, tidak ada beban kemarahan, kekecewaan, atau dendam masa lalu yang diwariskan kepada anak-anak.

Meskipun status suami istri telah berakhir, peran kita sebagai ayah dan bunda tidak akan pernah selesai hingga akhir hayat. Anak-anak berhak untuk tetap bahagia, ceria, dan percaya diri dalam meraih masa depan mereka, terlepas dari apa pun perubahan situasi keluarga yang terjadi. Semoga tulisan di dalam Jangan Bercerai, Bunda dapat menguatkan semangat para orang tua untuk terus memberikan kasih sayang yang utuh bagi buah hati mereka. (AN)

Kisah Asma Lainnya

Scroll to Top