Rectangle 135

Jomblo fi Sabilillah: Jomblo Bukan Masalah Jika Karena Allah

Menjadi lajang alias jomblo sering kali dipandang sebagai sebuah nasib buruk yang harus diratapi. Namun, di tangan kakak-beradik penulis ternama, Asma Nadia dan Helvy Tiana Rosa, status jomblo dirombak total menjadi sebuah perjalanan yang elegan, bermartabat, sekaligus mengocok perut melalui karya kolaborasi mereka yang berjudul Jomblo Fi Sabilillah.

Lahir dari lembaran novel populer yang kemudian bertransformasi menjadi film layar lebar bergenre drama komedi romantis pada September 2023, kisah ini membawa angin segar bagi industri kreatif tanah air. Sesuai tajuknya, Jomblo Fi Sabilillah tidak berbicara tentang keputusasaan, melainkan tentang komitmen menjaga kehormatan diri dalam penantian menjemput cinta sejati yang diridai-Nya.

Cerita berpusat pada persahabatan empat pria dewasa yang sama-sama menyandang status jomblo: Ali, Yusuf, Anton, dan Imron. Konflik utama mendidih ketika Ali (diperankan oleh Adhin Abdul Hakim) pria berusia 30 tahun yang mengidap venustraphobia atau ketakutan ekstrem terhadap wanita cantik, mendapat ancaman keras dari sang ayah. Ali dipaksa harus menikah dalam waktu satu bulan. Jika gagal, ia terancam diusir dan tidak lagi diakui sebagai anak.

Panik mengejar tenggat waktu yang mustahil, Ali meminta bantuan ketiga sahabatnya. Kelucuan demi kelucuan pun pecah ketika tiga orang yang sama-sama tidak berpengalaman dalam urusan asmara ini mencoba menjadi mak comblang bagi Ali. Penonton diajak terpingkal-pingkal melihat strategi konyol mereka yang kerap berujung salah paham. Di sisi lain, Yusuf (diperankan oleh Ricky Harun) sebenarnya diam-diam juga tengah memperjuangkan cinta tulusnya kepada seorang wanita. Perjalanan mencari jodoh ini membawa Ali bertemu dengan beberapa perempuan, termasuk Annisa (diperankan oleh Nabilah Ayu), sosok yang menyimpan cerita dari masa lalunya.

Kekuatan utama dari Jomblo Fi Sabilillah terletak pada kepiawaian Asma Nadia dan tim penulis dalam meramu pesan dakwah tanpa terkesan menceramahi. Melalui dialog-dialog yang renyah dan situasi komedi yang dekat dengan realitas anak muda, karya ini dengan cerdas menyelipkan batasan-batasan pergaulan dalam Islam, pentingnya restu orang tua, hingga makna kesetiaan dalam persahabatan. Sutradara Jastis Arimba pun berhasil visualisasikan coretan novel tersebut ke dalam sinematografi yang ceria, hangat, dan menyentuh hati.

Secara keseluruhan, Jomblo Fi Sabilillah bukan sekadar tontonan hiburan pelepas penat. Baik versi novel maupun filmnya merupakan sebuah refleksi manis bagi siapa saja yang sedang berjuang melawan sepi. Karya ini mengingatkan kita bahwa kesendirian bukanlah sebuah kutukan, melainkan sebuah ruang tunggu istimewa untuk memantaskan diri sebelum takdir indah itu datang menyapa. (*)

Kisah Asma Lainnya

Scroll to Top