Assalamualaikum Beijing adalah salah satu karya monumental Asma Nadia yang tidak hanya sukses di dunia literasi, tetapi juga berhasil menyebarkan pesan dakwahnya secara lebih luas lewat proses ekranisasi menjadi film layar lebar pada tahun 2014. Di bawah arahan sutradara Guntur Soeharjanto dan diproduksi oleh Maxima Pictures, adaptasi ini menjadi medium visual yang ampuh untuk memperkuat nilai-nilai Islam yang ada di dalam novelnya.
Bagi Asma Nadia, transformasi dari teks ke layar lebar ini memperluas jangkauan syiar yang ingin disampaikannya. Jika novel menyentuh hati pembaca lewat kekuatan imajinasi, film Assalamualaikum Beijing (2014) berhasil menghidupkan emosi tersebut secara nyata. Karakter Asma yang diperankan oleh Revalina S. Temat dan Zhongwen yang dimainkan oleh Morgan Oey mampu memvisualisasikan bagaimana Islam hadir sebagai agama yang logis, menenteramkan, dan penuh rahmad bagi semesta alam (rahmatan lil ‘alamin). Kehadiran Asma Nadia sendiri sebagai cameo di adegan bandara menjadi bentuk dukungan emosional langsung terhadap proyek ini.
Melalui medium film, keindahan Islam dan pesan ukhuwah (persaudaraan) lintas budaya tersampaikan dengan sinematografi yang memukau. Penonton tidak hanya disuguhi konflik romansa, tetapi juga diajak melihat bagaimana komunitas Muslim di Beijing hidup berdampingan dalam harmoni. Film ini mempertegas pesan novelnya: bahwa perbedaan etnis dan budaya akan meluruh ketika manusia bersujud kepada Tuhan yang sama.
Napas spiritual dari semesta cerita ini terus berlanjut ke layar lebar. Industri perfilman Indonesia kemudian menyambut kehadiran film Assalamualaikum Beijing 2: Lost in Ningxia (2025). Meskipun mengusung plot baru yang terpisah dari kisah Asma dan Zhongwen di film pertama, esensi dakwah yang diusung tetap konsisten. Film sekuel ini kembali mengangkat tema pencarian keteguhan iman seorang mualaf di tengah keindahan lanskap Ningxia, Tiongkok.
Melalui kolaborasi antara novel dan film, kisah ini berhasil menyampaikan pesan universal yang kuat. Baik lewat lembaran buku maupun proyeksi layar lebar, esensinya tidak berubah: menjadi pengingat bahwa sejauh apa pun manusia melangkah, takdir dan kasih sayang Allah akan selalu menuntun jiwa yang rindu akan kebenaran. (*)

