Rectangle 135

Catatan Hati Asma Tentang Ruang Rasa Tanpa Prasangka

Kata orang, fitnah itu bagai embun di pagi buta; ia datang tanpa diundang, melekat pada dedaunan, lalu perlahan menguap saat matahari mulai meninggi. Namun terkadang, ada embun yang dipaksa menjadi badai oleh ketikan jari-jemari di layar kaca.

Beberapa waktu lalu, sebuah narasi usang kembali ditiupkan ke beranda media sosial saya. Tuduhan lama yang rasanya tak pernah lelah mengetuk pintu rumah digital saya: “Asma Nadia itu pengikut Syiah!”

Alasannya? Sungguh beragam dan terkadang membuat saya mengelus dada sambil beristighfar. Hanya karena saya melangkahkan kaki dan mengabadikan perjalanan ke Iran sebagai seorang penjelajah dunia, serta-merta cap itu disematkan. Hanya karena saya menyuarakan simpati pada kemanusiaan dan keadilan, tiba-tiba akidah saya dipertanyakan oleh publik.

Bagi Anda yang mengikuti jejak jemari saya di dunia literasi, cobalah sesekali singgah ke perpustakaan atau membuka lembaran-lembaran buku dari ratusan karya yang pernah saya lahirkan. Adakah satu baris kalimat saja yang mengarahkan pembaca pada paham tersebut? Tentu tidak ada. Jika akidah adalah kompas dalam hidup saya, maka seluruh karya saya adalah pantulan jujur dari apa yang saya yakini.

Pernah seseorang menuduh saya membenci orang-orang terkasih Rasulullah. Hati saya terenyuh. Saya menjawabnya dengan senyuman dan sebuah fakta sederhana. Jika saya membenci Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, mengapa saya justru mengabadikan nama mulia beliau sebagai judul dalam empat seri buku Aisyah Putri? Buku-buku itu ditulis dengan cinta, sebagai penghormatan tertinggi kepada sosok Ibunda kaum mukmin yang cerdas, anggun, dan mulia.

Perjalanan saya ke Iran pun memicu kembali riak prasangka. Saat itu, saya diundang secara resmi untuk menghadiri dan menyaksikan langsung salah satu momen emosional bagi masyarakat di sana, yaitu prosesi penghormatan terakhir untuk pmimpin besar Iran, Imam Ali Khamenei. Di sana, mata saya menyaksikan jutaan manusia tumpah ruah dalam ketertiban yang luar biasa, memadati jalanan dengan kedukaan mendalam sekaligus keteguhan sikap yang mengagumkan.

Bagaimana mungkin saya tidak menaruh rasa hormat pada ketegasan sikap para pemimpin mereka dan rakyat Iran dalam membela kedaulatan Palestina? Di saat banyak negara-negara Arab yang sedarah dan sebahasa justru memilih diam, terpasung dalam kalkulasi politik yang membisu, Iran berdiri kokoh di garis depan menentang kezaliman zionisme.

Dukungan mereka melampaui sekat-sekat perbedaan mazhab fikih demi sebuah nilai kemanusiaan tertinggi, yaitu kemerdekaan Palestina. Ketika saya bertemu langsung dengan warga di sana, mereka berkali-kali menyuarakan solidaritas yang tak goyah untuk Palestina dan Gaza. Keberpihakan pada keadilan inilah yang patut kita apresiasi secara objektif.

Di belahan bumi lain, kita juga menyaksikan sebuah fenomena kemanusiaan yang mengetuk kesadaran kita. Gelombang protes terbesar menentang kebiadaban zionisme justru berkobar di kota-kota besar negara Barat dan Eropa. Jutaan masyarakat yang notabene tidak identik dengan Islam, para mahasiswa di kampus-kampus ternama Amerika, warga di London, Irlandia, hingga Spanyol, turun ke jalan menyuarakan ‘Free Palestine’. Mereka tidak digerakkan oleh kesamaan iman, melainkan oleh nurani murni yang tidak tahan melihat genosida terpampang di layar ponsel mereka setiap hari.

Apakah ketika para aktivis kemanusiaan di Eropa membela Palestina, mereka otomatis berpindah keyakinan menjadi Muslim? Tentu tidak. Begitu pula dengan saya. Mengagumi ketegasan sebuah bangsa dalam melawan penjajahan tidak serta-merta mengubah identitas keimanan seseorang. Seperti kutipan yang merefleksikan realitas ini: Membela Iran tidak membuatmu Syiah, tetapi membela penjajahan Israel membuatmu Zionis 100%.

Sedikit lucu ketika negara-negara barat dan Eropa mendukung Palestina, kita begitu memuji dan bangga pada sikap mereka. Namun ketika Iran yang dipuji tak hanya oleh saya namun juga oleh banyak negara non Islam, mendadak cap Syiah disematkan pada pribadi saya. Ini aneh dan lucu, terlalu bermain dalam ranah prasangka. Kenapa yang disorot faktor Syiah, bukan Palestina? Sedangkan dukungan saya pada Iran jelas karena faktor Palestina.

Saya adalah seorang Muslimah Ahlussunnah wal Jama’ah. Keyakinan ini lurus, tertanam dalam di sanubari, dan tercermin nyata dalam ikhtiar saya membangun keluarga serta mendidik anak-anak. Palestina bagi saya adalah luka yang dekat, dan setiap kita berkewajiban untuk bergerak membela mereka dengan cara apa pun yang kita bisa.

Di ruang rumah kita yang hangat, mari kita belajar untuk tidak mudah menghakimi hanya dari sepotong foto perjalanan atau judul berita yang dipotong. Alangkah indahnya jika jemari yang kita miliki digunakan untuk merajut ukhuwah, menebar kedamaian, dan menuliskan kebaikan, alih-alih melempar batu prasangka pada dinding rumah saudara seiman. Semoga Allah melembutkan hati kita semua untuk selalu melihat dengan mata jernih dan tabayun yang tulus. Dan semoga tulisan ini bisa menjawab segala prasangka di luar sana. (AN)

Kisah Asma Lainnya

Scroll to Top