Masa kecil kami tidak pernah bertabur kemewahan materi, melainkan deru mesin besi yang membahana hampir setiap jam. Kami tumbuh besar di sebuah rumah sangat sederhana yang berdiri kokoh di tepi rel kereta api. Bagi sebagian orang, suara gemuruh roda besi yang bergesekan dengan rel adalah polusi suara yang memekakkan telinga. Namun, bagi saya dan kakak saya, Helvy Tiana Rosa, suara bising itu adalah musik latar kehidupan sehari-hari, sebuah detak jantung yang mengiringi tumbuh kembang imajinasi kami yang liar. Setiap kali kereta malam melintas, dinding-dinding papan rumah kami ikut bergetar, dan di sela-sela getaran itulah mimpi-mimpi besar kami mulai ditenun.
Di tengah segala keterbatasan ekonomi keluarga saat itu, ada satu kekayaan tak ternilai yang tidak pernah luput dari hidup kami: buku. Sejak kecil, saya selalu menemukan kebahagiaan terbesar dan kedamaian sejati saat duduk membaca bersama Kak Helvy. Orang tua kami mungkin tidak bisa membelikan mainan mahal atau pakaian mewah, tetapi mereka selalu mengusahakan agar lembaran-lembaran kertas penuh ilmu itu hadir di tengah-tengah kami. Bagi kami berdua, buku-buku tersebut adalah jendela ajaib, sebuah tiket gratis yang membawa kami terbang jauh meninggalkan pengapnya udara pinggiran rel, melintasi ruang dan waktu menuju dunia-dunia baru yang menakjubkan.
Aktivitas membaca bersama Kak Helvy bukan sekadar membalik halaman demi halaman dalam keheningan. Bagi kami, itu adalah sebuah ritual petualangan. Kami sering kali duduk berdampingan, berbagi satu buku yang sama, lalu tenggelam dalam alur cerita yang disajikan. Setelah selesai, kami akan saling bertukar pikiran, mendiskusikan karakter-karakter di dalamnya, hingga berdebat kecil tentang akhir cerita yang seharusnya terjadi. Kak Helvy bukan hanya sekadar seorang kakak yang melindungi adiknya; ia adalah mentor, sahabat karib, dan belahan jiwa dalam perjalanan literasi saya.
Di bawah sinaran lampu minyak atau bohlam kuning yang temaram, ditemani angin malam yang sesekali berembus membawa aroma jelaga kereta, kami menghabiskan waktu berjam-jam untuk melahap novel, kumpulan cerpen, hingga majalah bekas apa saja yang bisa kami temukan. Kak Helvy sering kali membacakan cerita dengan suara lantang, lengkap dengan intonasi yang dramatis, membuat karakter di dalam buku seolah hidup dan menari-nari di ruang tamu kami yang sempit. Melalui kedekatan yang dipupuk lewat lembaran-lembaran kertas itulah, benih cinta yang mendalam pada dunia tulis-menulis perlahan tapi pasti mulai berakar di dalam hati kami.
Tinggal di tepi rel kereta api juga mengajari kami cara mengamati manusia. Dari jendela rumah, kami melihat wajah-wajah penumpang yang menatap kosong keluar jendela, para pedagang asongan yang mengadu nasib di peron, hingga anak-anak jalanan yang berlarian tanpa alas kaki. Semua pemandangan itu, berpadu dengan buku-buku yang kami baca, menjadi bahan bakar yang melimpah bagi daya imajinasi kami. Kami mulai menyadari bahwa setiap manusia memiliki cerita, dan setiap cerita layak untuk dituliskan. Dari halaman-halaman buku yang kami lahap bersama di tepi rel kereta yang bising itu, lahirlah sebuah tekad kuat: kami tidak hanya ingin menjadi pembaca, kami ingin menciptakan dunia kami sendiri dan menyentuh hati banyak orang lewat untaian kata-kata.
Membaca ratusan buku di tepi rel kereta api pada akhirnya menumbuhkan gelora baru di dada kami. Kami tidak lagi puas hanya menjadi penikmat dunia yang diciptakan orang lain. Ada dorongan kuat yang mendesak dari dalam diri untuk mulai merangkai kata-kata kami sendiri. Di sinilah fase perjuangan baru dimulai, ketika saya dan Kak Helvy sepakat untuk melangkah lebih jauh: mengirimkan tulisan pertama kami ke berbagai majalah dan media massa.
Satu-satunya modal kami saat itu adalah sebuah mesin tik tua yang bunyinya tak kalah nyaring dengan ketukan rel kereta di luar rumah. Menulis di rumah kami membutuhkan konsentrasi tingkat tinggi. Setiap kali kereta api lewat dan rumah mulai bergoyang, kami harus menahan kertas agar tidak bergeser atau berhenti mengetik sejenak karena suara denting mesin tik tenggelam oleh gemuruh lokomotif. Namun, kendala itu tidak pernah menyurutkan semangat. Kak Helvy biasanya menjadi pionir; dengan ketekunannya, ia mulai mengirimkan puisi dan cerita pendek ke majalah-majalah remaja kala itu. Melihat keberanian kakak, saya pun tertular. Dengan jemari yang masih kaku, saya mulai memberanikan diri menyusun draf cerita, meminta masukan darinya, lalu membungkus naskah tersebut ke dalam amplop dengan harapan yang membubung tinggi.
Di balik kegigihan kami berdua, ada andil yang sangat besar dari kedua orang tua kami. Hidup dalam keterbatasan ekonomi sebagai keluarga yang tinggal di pinggiran rel tentu tidak mudah. Prioritas utama orang tua kami jelas adalah isi piring di meja makan dan biaya sekolah. Namun, mereka memiliki pandangan yang luar biasa mengenai masa depan anak-anaknya. Mereka tidak pernah menganggap hobi membaca dan menulis kami sebagai kegiatan yang membuang-buang waktu atau uang.
Sebaliknya, perjuangan orang tua kami dalam memfasilitasi minat literasi ini sungguh menyentuh hati. Ketika uang belanja sedang menipis, Ibu tetap mengusahakan menyisihkan sedikit uang receh demi membelikan kami majalah bekas di pasar loak. Ayah pun demikian; beliau rela meluangkan waktu untuk mengantarkan naskah-naskah kami ke kantor pos, atau sekadar membelikan kertas kuarto dan pita mesin tik baru jika ada rezeki lebih. Mereka tahu bahwa di dalam rumah mungil yang terus bergetar setiap kali kereta lewat ini, ada dua anak perempuan yang sedang berusaha mendobrak batas dunia lewat tulisan. Dukungan tanpa syarat dari orang tua itulah yang menjadi fondasi mental paling kokoh bagi kami, membuat kami percaya bahwa anak pinggiran rel pun berhak memiliki mimpi setinggi langit.
Proses mengirimkan tulisan ini tentu tidak langsung berbuah manis. Amplop-amplop balasan berisi surat penolakan dari redaksi majalah sempat menjadi menu harian yang akrab bagi kami. Setiap kali menerima surat penolakan, rasanya tentu kecewa. Namun, di sinilah indahnya memiliki seorang kakak sekaligus sahabat seperti Kak Helvy. Kami tidak pernah membiarkan satu sama lain terpuruk dalam kesedihan. Jika naskah saya ditolak, Kak Helvy akan membaca ulang tulisan tersebut, membantu mengedit, dan memberi semangat untuk mengirimkannya lagi ke media yang berbeda. Begitu pula sebaliknya. Kami saling menjadi kritikus pertama sekaligus suporter paling setia.
Hingga akhirnya, hari yang dinanti itu tiba. Surat kabar dan majalah mulai memuat karya-karya kami. Perasaan melihat nama sendiri tercetak di kolom penulis koran nasional sungguh tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Itu adalah validasi pertama bahwa suara kami dari tepi rel kereta api akhirnya didengar oleh dunia luar. Honor pertama yang kami terima, meski jumlahnya tidak seberapa, langsung kami gunakan untuk membeli lebih banyak buku dan pita mesin tik baru. Roda kreativitas itu pun berputar semakin cepat, membawa kami pada perjalanan panjang yang kelak melahirkan Forum Lingkar Pena dan puluhan karya novel yang menemui pembacanya di berbagai penjuru negeri. (AN)

